Menurut dia, cara tersebut menjadikan pelajaran agama lebih hidup dan relevan. Ia menilai pendekatan seperti itu bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru agama di Indonesia untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih menarik dan partisipatif.
“Ini menjadi tantangan bagi guru-guru agama kita, bagaimana membuat pelajaran agama menjadi diskusi yang hidup dan menarik di kelas. Mengajar agama tidak bisa dengan cara monoton, tapi harus mampu menciptakan dialog yang kontekstual dan bermakna,” ujarnya.
Kamaruddin menegaskan tujuan utama pendidikan agama bukan hanya untuk menanamkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menumbuhkan sikap toleran dan memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
“Agama harus berfungsi sebagai perekat sosial. Karena itu, pembelajaran agama di sekolah seharusnya bisa menumbuhkan semangat saling memahami dan menghormati antarumat beragama,” kata dia.
Kemenag, lanjut dia, akan terus mendorong peningkatan kapasitas guru agama agar mampu mengembangkan metode pengajaran yang inspiratif dan sesuai dengan perkembangan zaman. (Ant)


















