Dalam kerangka ini, AI tampil, bukan lagi sebagai alat, melainkan sebagai aktor yang patut dimintai pertanggungjawaban.
Padahal, ada satu fakta mendasar yang kerap terlewat dalam hiruk-pikuk itu. Tidak ada satu pun keluaran AI yang lahir tanpa permintaan. Tidak ada gambar, teks, atau respons yang muncul tanpa input manusia. AI tidak memulai percakapan, tidak mengajukan ide, tidak memiliki dorongan. Ia hanya merespons.
Kasus Grok memperlihatkan pola itu, dengan terang. Fitur pembuatan gambar dari AI itu, awalnya dibuka untuk publik, memungkinkan pengguna mengunggah foto siapapun dan meminta versi yang lebih vulgar.
Hal yang terjadi kemudian adalah banjir konten pornografi lewat AI, tanpa persetujuan, memicu kemarahan lintas negara. Setelah tekanan datang, barulah pembatasan diterapkan. Bahkan, kini, pagar itu tidak sepenuhnya seragam di semua kanal.
Fenomena serupa tampak dalam gugatan terhadap chatbot lain. AI dituduh berkontribusi pada perilaku berbahaya, sementara peran pengguna sering berhenti sebagai latar belakang cerita.
Sorotan publik bergerak cepat ke teknologi, dalam hal ini AI, meninggalkan pertanyaan tentang niat, konteks, dan tanggung jawab manusia yang memanfaatkan celah sistem.
AI seolah menjadi wajah paling mudah untuk disalahkan. Ia —tentu saja—tidak bisa membela diri, tidak berdebat, dan tidak menuntut balik.
Apakah duduknya AI di kursi terdakwa benar-benar menjawab persoalan? Atau justru menyingkirkan diskusi yang lebih sulit tentang bagaimana manusia menggunakan alat yang ada di tangannya?



















