DPRD Kota Semarang Soroti Halte BRT Terendam Beton di Jalan Brigjen Sudiarto

Salah satu halte Trans Semarang yang menjadi rendah di Jalan Majapahit. (matasemarang.com/Lia dina)
Salah satu halte Trans Semarang yang menjadi rendah di Jalan Majapahit. (matasemarang.com/Lia dina)

MATASEMARANG.COM – DPRD Kota Semarang menyoroti imbas proyek betonisasi di Jalan Brigjen Sudiarto atau Jalan Majapahit yang menyebabkan landasan halte BRT Trans Semarang malah terendam beton.

Akibatnya, posisi permukaan lantai halte dengan pintu masuk BRT tidak sejajar lagi, bahkan jomplang. Kondisi ini menyulitkan penumpang yang mau masuk maupun turun dari BRT.

Proyek pembetonan di jalan provinsi ini selesai pada akhir tahun 2025. Namun setelah jalanan mulus dengan beton, halte BRT Trans Semarang yang ada di sepanjang jalan tersebut justru terendam dan tampak lebih rendah.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Catat, Tiket Murah Trans Semarang Berlaku hingga 27 Maret 2026

Hal ini tentu saja dikeluhkan oleh pengguna jasa BRT Trans Semarang. Pasalnya, dengan halte yang menjadi rendah dan jalanan lebih tinggi, maka pengguna transportasi umum ini akan kesulitan untuk naik dan turun ke dalam BRT.

Anggota Komisi A DPRD Kota Semarang Ali Umar Dhani menyampaikan kritik atas proses pengerjaan yang tidak mengutamakan kelancaran transportasi publik.

“Kami menerima laporan dari masyarakat, ada beberapa halte bus yang terendam karena pengecoran beton, salah satunya adalah halte di depan SPBU Penggaron, MAN 1 Semarang, dan Manunggal Jati. Selain itu, halte-halte di sekitar Jalan Zebra bagian selatan dan utara juga mengalami nasib serupa,” kata Ali Senin, 12 Januari 2026..

BACA JUGA  Bus Listrik Trans Semarang Jadi Jawaban "Cumi-cumi Darat"

Ali menegaskan, permasalahan ini harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah kota dan pihak terkait.

“Betonisasi jalan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan infrastruktur, namun seharusnya keberpihakan terhadap kenyamanan warga, terutama para pengguna angkutan umum, juga menjadi prioritas. Halte-halte yang tergenang beton ini tentunya mengganggu mobilitas masyarakat, yang seharusnya dapat mengakses transportasi umum dengan mudah,” ungkapnya.

Pos terkait