Mandiri 5 Hari Pertama, Kunci Bertahan Saat Kondisi Darurat

ilustrasi keadaan darurat (pixabay/ Golda)
ilustrasi keadaan darurat (pixabay/ Golda)

MATASEMARANG.COM – Gangguan sistem vital akibat bencana alam, cuaca ekstrem, hingga ancaman siber dapat terjadi kapan saja dan menghentikan fungsi layanan publik secara tiba-tiba.

Listrik, air bersih, internet, hingga jaringan telepon berpotensi terputus saat krisis melanda.

Karena mustahil bagi layanan darurat dan pemerintah menjangkau seluruh daerah terdampak seketika, masyarakat diminta untuk mampu mandiri selama 120 jam (5 hari) pertama.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Call Center 112 Terima Lebih dari 8.000 "Prank Call" Selama 2025

Hal ini tertuang dalam Panduan Darurat 2026 yang tertera di laman PPID Kota Semarang dan menekankan tiga langkah utama persiapan diri.

Pertama, menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) berisi kebutuhan untuk 5 hari, termasuk 15 liter air minum per orang, makanan tahan lama, perlengkapan P3K, obat pribadi, senter, radio baterai, dokumen penting, dan uang tunai.

Kedua, membuat rencana darurat bersama keluarga mengenai titik kumpul, cara berkomunikasi saat jaringan mati, serta pembagian tugas membantu anak dan lansia.

BACA JUGA  Cara Sewa Gedung Juang 45 hingga Hall Balai Kota Semarang, Ini Prosedur dan Tarif Resminya

Ketiga, membangun komunitas peduli dengan keluarga, tetangga, dan teman agar mereka yang rentan tetap mendapat bantuan.

Panduan ini juga memuat garis waktu skenario bencana. Dalam 6 jam pertama listrik padam dan layanan darurat kewalahan. Pada 8–24 jam, jalanan macet, air keran berhenti, dan makanan mulai rusak.

Memasuki 36–72 jam, baterai ponsel habis dan posko bantuan baru berdiri. Pada 96–120 jam, bantuan air bersih dan sembako mulai berdatangan, listrik serta internet berangsur pulih.

BACA JUGA  Ini Dia Sri Husodo, Guru SMP Nasima Semarang yang Menang Lomba Cipta Mars MTQ Nasional

Masyarakat diingatkan untuk menyimpan nomor darurat 112 secara tertulis dan hanya merujuk informasi resmi dari kanal pemerintah seperti BNPB, BMKG, MAGMA Indonesia, atau PetaBencana.id agar terhindar dari berita palsu.

Pos terkait