MATASEMARANG.COM – Banjir yang melanda wilayah sistem drainase Semarang Barat, khususnya sub sistem kali Silandak, kembali menjadi sorotan.
Meski infrastruktur drainase dinilai sudah baik, kinerjanya belum optimal akibat saluran yang tersumbat sampah sehingga menghambat aliran air menuju saluran pembuang utama.
Akademisi Undip Semarang, Prof. Dr. Ir. Ign Sriyana, MS., IPU., APEC. Eng., menjelaskan perlunya strategi baru yang lebih berkelanjutan.

“Selain penerapan Zero Delta Q, kita harus berani menerapkan zero waste. Ini bagian dari berpikir global, bertindak lokal dengan mengurangi sampah, mendaur ulang, dan mencegah timbulan sampah di tempat pemrosesan akhir. Basisnya harus bentang alam di tingkat DAS mikro, yakni kelurahan,” ujarnya 28 Mei 2026.
Menurutnya perencanaan detail di tingkat DAS mikro sangat penting agar evaluasi dan monitoring bisa dilakukan secara berkesinambungan.
Ia menekankan perlunya wadah keterlibatan lintas pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, Pemkot Semarang, akademisi, TNI-Polri, masyarakat, hingga media.
“Keberlanjutan hanya bisa terwujud jika dibentuk lembaga tangguh berbasis masyarakat di tingkat RT, RW, dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Kapasitas lembaga ini harus ditingkatkan. Untuk mendukung pelaksanaan, dana sekitar Rp25 juta per tahun di tingkat RT bisa diintegrasikan melalui RPJMDes,” jelasnya.
Sriyana menambahkan, jika pola pembangunan lama terus dipertahankan, banjir dan masalah sampah akan tetap menjadi ritual tahunan yang melelahkan.
“Saatnya kita berhenti berwacana. Kita butuh aksi nyata, konsistensi, dan keberanian untuk berpikir global, bertindak lokal demi Kota Semarang tercinta,” tegasnya.


















