MATASEMARANG.COM – Penanganan banjir yang cukup kompleks di Kota Semarang mendapat tanggapan dari Pakar Hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) sekaligus Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Jawa Tengah Prof. Dr. Ir. Sriyana, MS.
Prof Sriyana mengatakan bahwa karakteristik alam dan tantangan tata ruang Ibu Kota Jawa Tengah ini memang membutuhkan penanganan yang terintegrasi.
Menurutnya, banjir yang sempat melanda kawasan Ngaliyan beberapa waktu lalu dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan keunikan geografis lokal. Berdasarkan data BMKG pada 14–15 Mei 2026, curah hujan di wilayah tersebut masuk kategori lebat dengan intensitas mencapai 50 hingga 100 milimeter per hari, yang langsung membebani Sub-Sistem Drainase Kali Silandak.
“Masyarakat perlu memahami bahwa bentuk Daerah Aliran Sungai atau DAS di Ngaliyan itu cenderung bulat, ibarat sebuah mangkuk raksasa. Secara alamiah, kalau hujan lebat turun, air dari segala penjuru perbukitan akan meluncur dan berkumpul ke satu titik dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, muncul puncak aliran air yang sangat tajam sehingga risiko banjir menjadi tinggi dalam waktu singkat. Ini berbeda dengan wilayah yang bentuk DAS-nya memanjang, sehingga hidrograf yang yang dihasilkan lebih landai dan risiko banjir perlu waktu lebih lama,” kata Sriyana, Sabtu, 30 Mei 2026.
Kondisi alamiah tersebut diperparah oleh fenomena di kawasan hulu, mulai dari alih fungsi lahan, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, hingga semakin berkurangnya lahan resapan air.

















