Pertarungan Panjang Menaklukkan Banjir Kota Semarang

MATASEMARANG.COM – Banjir yang setiap tahun melanda Kota Semarang seolah menjadi peristiwa biasa. Padahal, kerugian material yang ditimbulkannya begitu besar. Begitu pula penderitaan yang harus dihadapi warga.

Meski menjadi peristiwa rutin, bencana ini selalu viral di media sosial. Pun media arus utama yang memberi porsi besar dalam bencana kemanusiaan itu.

Terakhir yakni ketika banjir merendam sejumlah kawasan lebih dari sepekan dan melumpuhkan jalur pantai utara pada akhir Oktober hingga awal November 2025.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Kasus Keracunan MBG di Ungaran Jadi Pelajaran untuk Kota Semarang

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur Kaligawe–akses utama pantura–nyaris seperti telaga yang membuat banyak kendaraan bermotor menyerah untuk bisa melintasi genangan banjir dengan ketinggian nyaris 1 meter.

Hanya truk-truk besar yang masih berani melintas karena posturnya yang tinggi membuat air tak sampai menjamah area mesin. Namun kendaraan lain, selebihnya hampir pasti mogok.

Tak hanya jalan-jalan protokol, banjir juga menggenangi kawasan permukiman, seperti Tlogosari, Sawah Besar, dan Genuk dengan ketinggian bervariasi.

Bahkan, banjir menggenangi jalur rel yang membuat PT Kereta Api Indonesia (KAI) harus mengatur ulang rute perjalanan kereta api (KA) dari barat maupun timur memutar ke Selatan.

BACA JUGA  Update Banjir Kaligawe Senin 27 Oktober 2025: Depan RSI Sultan Agung Masih Terendam

Banjir menggenang sejak 22 Oktober 2025 dan tercatat sebanyak 23 kelurahan di lima kecamatan di Kota Semarang terendam banjir, sebanyak 63.000 jiwa terdampak dan tiga orang meninggal dunia.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, lima kecamatan yang terdampak, yaitu Kecamatan Semarang Utara, Gayamsari, Genuk, Pedurungan, dan Semarang Timur.

Pos terkait