Ali Khamenei, Sang Pengawal Revolusi Iran Selama 30 Tahun

MATASEMARANG.COM – Masa berkabung telah diumumkan di Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, dipastikan gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi.

Serangan yang menewaskan Ali Khamenei tersebut adalah salah satu dari serangkaian serangan masif AS-Israel ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.

Informasi soal wafatnya Khamenei sempat simpang siur dengan informasi kontradiktif antara media Iran dengan media barat yang bermunculan. Hingga Sabtu, Para pejabat Iran menegaskan bahwa sang pemimpin tertinggi sehat wal afiat dan secara teguh memegang komando perang.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Serangan Israel ke SD di Iran Tewaskan 40 Warga dan Pelajar

Namun, pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump dengan bangga menyebut Khamenei telah tewas dalam serangan yang ia beri “lampu hijau”. “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” tulis Trump di media sosial.

Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran bersumpah akan membalas kematian Khamenei, dengan ulama Syiah Ayatollah Makarem Shirazi menyatakan “perang suci” terhadap AS dan Israel.

BACA JUGA  Razia Penipuan "Online", Ribuan WNI di Kamboja Antre di KBRI untuk Dipulangkan

Wafatnya Ali Khamenei dipastikan akan menandai era baru di Republik Islam Iran, mengingat ia merupakan pemimpin negara dengan masa jabatan paling lama di Timur Tengah, yakni mencapai 45 tahun.

Ia menjadi Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan pencetus Revolusi Islam Iran Ruhollah Khomeini, setelah sebelumnya menjabat sebagai Presiden Iran pada 1981—1989.

Pos terkait