MATASEMARANG.COM – Pihak di balik kematian Alexei Navalny, aktivis antikorupsi Rusia, pada 2 tahun silam, masih menjadi perdebatan.
Navalny meninggal di sebuah penjara di negara itu pada 16 Februari 2024 setelah berjalan-jalan dan kehilangan kesadaran.
Menurut informasi awal, ia menderita pembekuan darah. Komite Investigasi telah meluncurkan penyelidikan prosedural atas insiden tersebut.
Lima negara Eropa (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia) sebelumnya merilis laporan bersama yang menyatakan bahwa Navalny meninggal karena racun epibatidine.
Racun yang sangat mematikan itu secara alami ditemukan pada kulit katak panah beracun di Amerika Selatan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintahnya tidak terlibat dalam klaim beberapa negara Eropa mengenai dugaan Alexei Navalny tewas akibat racun epibatidine.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Slowakia Robert Fico di Bratislava pada Minggu (15/2), Rubio menegaskan bahwa AS tidak “bertengkar” dengan sejumlah negara Eropa tentang hal itu.
“Itu laporan mereka dan mereka yang menerbitkannya,” kata Rubio.
Menanggapi laporan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan akan berkomentar setelah mendapatkan hasil tes. [Ant]

















