Oleh: Prof. Dr. Ir. Ign Sriyana, MS., IPU., APEC. Eng. (Guru Besar Undip dan Pengurus HATHI Jawa Tengah)
MATASEMARANG.COM – Banjir di Kota Semarang bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan alarm keras krisis ekologis. Data BPBD mencatat setidaknya 444 kali bencana banjir melanda ibu kota Jawa Tengah ini sepanjang 2012-2023.
Tragedi Sungai Garang 1990 yang memakan korban jiwa seharusnya menjadi pelajaran abadi: pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan berujung bencana.
Dilema Pembangunan vs Resapan Air
Penyebab banjir Semarang sangat kompleks, mulai dari curah hujan tinggi, rob, hingga perubahan tata guna lahan yang tak terkendali. Lahan resapan semakin menyempit, sementara permukaan kedap air (beton/aspal) terus bertambah.
Akibatnya, air hujan tidak lagi meresap ke tanah, melainkan langsung “lari” ke drainase dan sungai, memicu debit ekstrem dalam waktu singkat.
Selain masalah resapan air, sampah yang terus menggunung menjadi ancaman serius yang memperparah siklus banjir tahunan di Kota Semarang.
Sampah akan menyumbat aliran sungai dan drainase, sehingga menghambat efektivitas sistem kendali banjir yang ada.
Oleh karena itu, gerakan merawat bumi harus dilakukan secara menyeluruh melalui kolaborasi nyata untuk mengelola air sekaligus menuntaskan persoalan sampah dari hulu ke hilir.
Apa Itu Zero Delta Q?
Prinsip zero delta Q menegaskan bahwa setiap pembangunan tidak boleh menambah debit air ke sistem drainase atau sungai. Setiap tetes air hujan yang jatuh di satu kawasan wajib dikelola di lokasi tersebut.
Langkah konkretnya meliputi:


















