Menurut dia, Indonesia memiliki banyak pohon kina, namun tidak diekstrak ataupun disintesis di Tanah Air, melainkan dikirim ke luar negeri, kemudian ekstraknya diimpor dari Jerman dan Belanda.
“Sebagian yang diimpor dari Jerman dan Belanda itu adalah pohon kita. Indonesia mengirim keluar negeri seharga Rp15.000 per kubik, kemudian kembali ke Indonesia sudah jutaan. Ini seharusnya dihilirisasi di negeri ini,” paparnya.
Ke depan, tambah dia, seharusnya Indonesia dapat memanfaatkan potensi dengan melakukan bioaktivasi alkaloid berbagai jenis tumbuhan bahan baku obat. Hal ini dapat dilakukan bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi, khususnya Fakultas Farmasi untuk dapat diteliti serta dikembangkan. [Ant]





















