MATASEMARANG.COM – Semarang, panggung, ribuan penonton, dan dentuman hip-hop. Begitulah awal perjalanan Peter Salem di dunia musik.
Bersama grup Nattirootz 024, ia pernah berbagi panggung dengan nama-nama besar seperti Momo Geisha, Raisa, Kotak, Kuburan Band, hingga Andra and The Backbone.
Kala itu, Semarang menjadi rumah bagi kolaborasi lintas genre; reggae, rock, dangdut, hingga hip-hop yang membentuk identitas musiknya.
Bahkan, ia sempat meluncurkan album, sebuah pencapaian yang menandai keseriusannya di dunia hiburan.
Namun, arah hidup Peter berubah ketika ia kembali ke kampung halaman di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Dunia musik di sana, khususnya hip-hop, belum memiliki wadah yang kuat.
Setelah sempat mengajar di sebuah sekolah swasta, ia merasa seni tak menemukan ruang yang tepat untuk berkembang. Tahun 2022 menjadi titik balik; Peter memilih bertani.
“Puji Tuhan, bertani memberi saya motivasi, inspirasi, dan berkat yang cukup. Dari tanah saya belajar tentang kesabaran, kerja keras, dan arti memberi,” ujarnya.
Kini, setelah empat tahun menekuni dunia pertanian, Peter kembali ke musik dengan semangat baru.
Ia menyiapkan single berjudul “Petani”, sebuah rap yang bukan hanya hiburan, tetapi juga manifesto sosial.
Lagu ini bercerita tentang perjuangan petani Indonesia yang tanpa henti memberi makan bangsa, meski sering kali kurang mendapat perhatian dari pemimpin.
“Saya ingin bersuara untuk petani muda. Banyak anak muda di NTT lebih memilih merantau atau menunggu CPNS. Padahal, kuliah seharusnya membuat kita mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar menunggu kesempatan. Saya berharap 2026 ini, anak muda NTT bangkit di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” tegasnya.





















