MATASEMARANG.COM – Sejumlah warga Kota Semarang selama sepekan terakhir ini mengalami kesulitan membeli gas epliji 3 kilogram atau populer dengan sebutan gas melon.
Keterangan yang dihimpun dari kobsumen, pengecer, hingga pangkalan gas elpiji hingga Sabtu, 28 Februari 2026, menyebutkan kelangkaan disebabkan pasokan dari distributor tidak selancar sebelum Ramadan.
Padahal, pada masa Ramadan konsumsi elpiji mengalami kenaikan. Konsumen yang biasanya membeli elpiji setelah 10 hari, kini 7 hari sudah kehabisan.
“Senin awal pekan ini kami dikirim seperti biasa, namun sorenya langsung habis. Padahal biasanya 40–50 tabung gas melon bisa bertahan hingga Kamis,” ujar Arta, pedagang sembako di Meteseh.
Kelangkaan tersebut menyebabkan harga elpiji subsidi 3 kg melonjak hingga Rp24.000 per tabung, 30 persen lebih tinggi dari HET Rp18.000/tabung.
Anindita (38), penjual nasi bakar di daerah Meteseh, Kecamatan Tembalang, mengaku kesulitan mendapatkan gas melon atau LPG 3 kg sejak awal bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Anindita mengaku sejak awal bahkan sempat harus mencari penjual gas melon hingga ke daerah Rowosari dan Bukit Kencana, namun hasilnya nihil.
“Awal Ramadan itu cari ke mana-mana namun habis, sampai cari ke Rowosari terus ke Bukit Kencana, tapi kosong semua,” kata Anindita, Sabtu, 28 Februari 2026.
Karena tidak mendapatkan gas melon, ia terpaksa tidak berjualan. Gas melon yang tersisa di rumah hanya digunakan untuk kebutuhan dapur pribadi.
“Saya punya tiga tabung. Pernah kehabisan pas awal Ramadan, saya tidak berjualan,” tuturnya.


















