Harga RAM Serampangan, AI Bikin Manusia Jadi Figuran Teknologi

ilustrasi RAM (pixabay/ cliffsmith23)
ilustrasi RAM (pixabay/ cliffsmith23)

Dampak sosialnya jelas. Para pengusaha warnet atau game center, editor video, dan mahasiswa teknik informatika jadi korban.

Mereka harus menunda upgrade, atau rela “sakit mata” karena menurunkan kualitas tampilan yang mereka lihat lewat monitor.

Harga perangkat yang menggunakan RAM, seperti smartphone yang kita gunakan sehar-hari diprediksi juga akan mengalami kenaikan harga akibat demam AI yang mewabah di kalangan orang kaya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Drama Dokumen Kependudukan di Tengah Banjir Bandang

Sementara itu, AI di pusat data sedang termanjakan dengan tambahan RAM berkapasitas raksasa.

Ironi ini membuat manusia berasa jadi figuran dalam drama teknologi.

Pada akhirnya, kenaikan harga RAM adalah pelajaran pahit bahwa hukum supply-demand tidak pernah peduli pada nasib rakyat kecil.

Selama korporasi besar terus menggelontorkan dana untuk pembuatan pusat data AI, harga RAM akan tetap melambung.

Suatu hari nanti, kita hanya bisa berharap para pabrikan kembali ingat bahwa ada manusia biasa yang ingin merakit PC bukan untuk proyek miliaran dolar, melainkan sekadar belajar atau mencari hiburan.

BACA JUGA  Pertarungan Panjang Menaklukkan Banjir Kota Semarang

Namun kenyataan saat ini berbeda karena orang mulai mengandalkan AI dalam berbagai pekerjaanya. Namun ada konsekuensi yang harus dibayar, yaitu semakin berkurangnya sentuhan kreatif manusia dalam sebuah karya.

Ide-ide yang dulu lahir dari imajinasi dan pengalaman, kini perlahan digantikan oleh akal imitasi yang diproduksi mesin.

Di sisi lain, AI pun belajar tanpa henti untuk lebih manusiawi dalam memberikan jawaban atas prompt yang diketik manusia.

Pos terkait