Maka dapat disaksikan betapa di butik-butik eksklusif kawasan SCBD atau Senopati, orang-orang tetap datang melihat karya mekanik jam dari Swiss, Jepang, hingga Jerman.
Mereka bukan sekadar untuk membeli, melainkan untuk memahami, menyentuh, dan merasakan waktu dalam bentuk paling indahnya.
Simbol Stabilitas
Perilaku ini mencerminkan perubahan pola konsumsi kelas menengah atas Indonesia. Mereka tak lagi membeli karena ingin memiliki, tetapi karena ingin menghargai sesuatu yang punya nilai, kisah, dan presisi.
Jam tangan sepertinya menjadi simbol stabilitas, bahkan ketika dunia sedang goyah. Seperti karya seni, ia tak lekang oleh fluktuasi pasar.
Sebuah jam tangan edisi langka dari Patek Philippe atau Rolex bukan hanya benda, melainkan penyimpan nilai baik nilai sejarah, emosional, maupun finansial.
Fenomena inilah yang membuat sejumlah pemain industri menangkap momentum. Beberapa di antaranya bahkan berekspansi dan memperbesar investasi.
Watches Trader, misalnya, yang baru saja membuka butik mewah di Prosperity Tower, SCBD, Jakarta Selatan, setelah tujuh tahun beroperasi di Surabaya.
Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan dari ibu kota. General Manager Watches Trader Indonesia, Sugeng Soeparta, menyebut hampir 60 persen pelanggan mereka kini berasal dari Jakarta.
Ia menganggap pasar di ibu kota lebih dinamis dan beragam. Banyak kolektor yang bukan sekadar membeli, tapi benar-benar memahami nilai craftsmanship dari sebuah jam tangan.
Dalam acara pembukaan butiknya pada akhir Oktober lalu, Watches Trader memamerkan sejumlah karya dari merek prestisius seperti Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet, Vacheron Constantin, hingga F.P. Journe.





















