Ini Alasan Orang Tetap Beli Jam Tangan Mewah di Tengah Krisis Ekonomi

Beberapa di antaranya hanya diproduksi dalam jumlah amat terbatas bahkan kurang dari lima unit di dunia. Di mata para kolektor, kelangkaan adalah keindahan baru.

Nilai sebuah jam bukan hanya ditentukan oleh emas atau safir di dalamnya, melainkan oleh cerita dan waktu yang terkandung di baliknya.

Konteks Ekonomi

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pengantin Baru Wajib Tahu Fenomena "Honeymoon Cystitis"

Namun yang paling menarik dari fenomena ini bukan soal merek atau kemewahan, melainkan konteks ekonomi di baliknya. Industri jam tangan berkembang justru ketika ekonomi global masih bergulat dengan perlambatan, inflasi, dan tekanan biaya hidup.

Di tengah situasi itu, muncul kelas konsumen baru, mereka yang mencari kepastian di tengah ketidakpastian. Bagi kelompok ini, jam tangan mewah menawarkan dua hal yang langka yakni kestabilan nilai dan kepuasan batin.

Banyak dari mereka menganggap jam tangan sebagai aset alternatif, sebuah bentuk investasi yang aman.

BACA JUGA  Sanly Liu Bermahkota "Miss Universe Indonesia 2025"

Nilai beberapa model bahkan meningkat drastis di pasar sekunder. Kolektor memandangnya sebagai versi modern dari emas atau karya seni, aset yang bisa disentuh, ditatap, dan dinikmati.

Di sisi lain, ada dimensi emosional yang tidak kalah penting. Memiliki jam tangan mekanik dianggap sebagai pernyataan diri bahwa waktu bukan sekadar angka di layar, melainkan sesuatu yang bisa dirasakan lewat detak halus di pergelangan tangan.

Sugeng Soeparta melihat tren ini sebagai tanda kedewasaan pasar. Menurutnya, banyak pelanggan kini lebih cermat, tidak lagi terjebak pada gengsi merek, tetapi mencari jam dengan cerita unik dan nilai historis.

Pos terkait