“Kolektor sekarang lebih sadar akan keaslian dan nilai jangka panjang. Mereka ingin punya jam yang punya makna,” katanya.
Pasar jam tangan di Indonesia kini juga ditopang oleh berkembangnya pasar sekunder. Mekanisme trade-in, buy-back, dan
consignment menciptakan sirkulasi ekonomi baru. Banyak kolektor yang menjual atau menukar koleksinya untuk mendapatkan seri lain yang lebih langka.
Aktivitas ini menciptakan dinamika perdagangan yang sehat dan profesional, dengan sistem autentikasi dan sertifikasi yang makin ketat. Kepercayaan menjadi mata uang baru di ekosistem horologi Indonesia.
Dari perspektif ekonomi, geliat ini menunjukkan betapa kuatnya segmen berbasis emotional investing. Ketika investasi finansial sulit ditebak, aset dengan nilai emosional justru menjadi pelarian rasional.
Di sinilah jam tangan menemukan momentumnya dan memberi rasa kontrol di saat dunia terasa tak pasti. Nilai yang ditawarkan bukan semata keuntungan, melainkan rasa kepemilikan atas sesuatu yang abadi.
Peluang Baru
Lebih jauh, industri horologi juga membuka peluang baru di sektor ekonomi kreatif. Perawatan, restorasi, desain, hingga sertifikasi kini menjadi bidang yang potensial.
Di masa depan, desainer Indonesia bisa memadukan budaya lokal dengan presisi modern. Imajinasi tentang jam tangan dengan filosofi batik atau corak Nusantara bukan hal mustahil.
Industri ini memiliki peluang besar untuk menggabungkan seni, teknologi, dan identitas bangsa dalam satu karya presisi.
Di sisi lain, komunitas pecinta jam tangan juga tumbuh pesat. Pertemuan mereka di Jakarta, Surabaya, atau Bali bukan sekadar pamer koleksi, melainkan ruang belajar.





















