Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine (2013) menunjukkan bahwa jalan nordik (nordic walking) secara bermakna meningkatkan kapasitas fungsional (konsumsi oksigen maksimal/VO2 max) pada pasien penyakit jantung koroner dibandingkan dengan program rehabilitasi jantung konvensional tanpa jalan nordik.
Kemudian, riset di Clinical Rehabilitation (2019) menemukan bahwa jalan nordik lebih efektif daripada latihan intensitas sedang-tinggi dalam meningkatkan kapasitas kardiorespirasi dan kekuatan otot pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Riset yang diterbitkan dalam Journal of Aging and Physical Activity membuktikan bahwa jalan nordik efektif mengurangi nyeri punggung bawah kronis pada wanita lanjut usia dan sekaligus meningkatkan mobilitas fungsional mereka.
Selain itu, banyak studi pada penderita osteoarthritis lutut dan parkinson menunjukkan bahwa latihan jalan nordik teratur dapat mengurangi nyeri sendi, kekakuan, dan meningkatkan keseimbangan serta panjang langkah.
Studi dari The Journal of Strength & Conditioning Research membandingkan jalan nordik dengan berjalan biasa. Hasilnya, jalan nordik menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam detak jantung, konsumsi oksigen, dan pembakaran kalori pada kecepatan yang sama, membuktikan bahwa olahraga ini memang lebih intensif dan efisien.
Penelitian tidak hanya fokus pada aspek fisik. Studi di Acta Neurologica Scandinavica melaporkan bahwa pasien multiple-sclerosis (MS) yang melakukan jalan nordik menunjukkan penurunan tingkat kelelahan dan depresi yang signifikan serta peningkatan kualitas hidup dibandingkan kelompok kontrol.


















