Bermain dan kerja otak anak
Dari sudut pandang psikologi perkembangan, bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Bermain berperan penting dalam proses kerja otak anak. Saat anak bermain dan merasa senang, otak melepaskan hormon yang mendukung proses belajar.
“Ketika anak merasa happy, otak melepaskan dopamin dan endorfin. Dopamin berperan dalam fokus, motivasi, dan daya ingat, sementara endorfin menciptakan rasa aman dan nyaman,” ujar Intan.
Kondisi emosional yang positif membuat anak lebih mudah menyerap informasi. Anak tidak merasa tertekan dan lebih berani mencoba, termasuk ketika melakukan kesalahan. Rasa aman ini menjadi fondasi penting dalam proses belajar jangka panjang.
Permainan yang melibatkan tantangan kognitif, seperti puzzle, balok, atau permainan konstruktif, juga memperkuat koneksi antarsel saraf di otak.
“Permainan yang kompleks membantu membentuk lebih banyak koneksi otak. Ini berpengaruh pada kecepatan berpikir dan kemampuan anak dalam memahami masalah,” kata Intan.
Mengasah kognitif dan sosial-emosional
Melalui playful learning, anak mengembangkan berbagai kompetensi secara bersamaan. Dari sisi kognitif, anak belajar berpikir logis, kreatif, dan terstruktur. Sementara dari sisi sosial-emosional, bermain bersama membantu anak belajar berbagi, bekerja sama, dan memahami perasaan orang lain.
“Dalam bermain bersama, anak belajar menunggu giliran, berbagi peran, dan bekerja sama. Ini menjadi dasar penting bagi kematangan emosional anak di kemudian hari,” ujar Intan.


















