Permainan peran atau role play dinilai sangat efektif karena menggabungkan berbagai aspek pembelajaran. Anak bisa belajar berhitung, membaca, menulis, dan berkomunikasi melalui skenario permainan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Playful learning dan anak rentan
Pendekatan belajar sambil bermain juga memiliki peran penting bagi anak-anak yang menghadapi hambatan emosional, termasuk anak yatim piatu. Dalam praktik psikologi, bermain kerap digunakan sebagai media terapi untuk membantu anak mengekspresikan emosi.
“Bermain menjadi jembatan emosional. Anak bisa mengekspresikan marah, sedih, atau takut tanpa harus menggunakan kata-kata,” kata Intan.
Lingkungan belajar yang ceria dan suportif membantu menurunkan kecemasan belajar serta membangun kembali rasa percaya diri anak. Oleh karena itu, playful learning dinilai penting untuk diprioritaskan pada kelompok anak rentan, di mana pemulihan emosional perlu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan akademik.
Kolaborasi lintas sektor
Upaya memperluas akses terhadap playful learning membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan penguatan kapasitas pendidik, sementara sektor swasta dan komunitas dapat mendukung melalui penyediaan alat bantu belajar dan program sosial yang menjangkau kelompok rentan.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Vivi Andriani menekankan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar yang setara.


















