Inisiatif itu mendapat sambutan baik dari pemerintah karena sejalan dengan fokus Kemendikdasmen untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak di bidang pendidikan.
“Kami sangat mengapresiasi komitmen pihak swasta,” kata Vivi.
Menurut dia, inisiatif ini sejalan dengan fokus Kemendikdasmen untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak di bidang pendidikan melalui partisipasi semesta.
Co-Director Kitabisa.org Marisa Thara Wardhani menilai pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga pada peningkatan kualitas pengalaman belajar anak.
Hal senada disampaikan oleh Sahabat Yatim yang melihat bahwa alat bantu belajar berbasis permainan mampu menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri anak.
“Sebagai pendamping yang berinteraksi setiap hari dengan anak-anak, kami menyaksikan langsung bagaimana perhatian sekecil apa pun mampu menumbuhkan kebahagiaan bagi anak-anak,” kata Muhammad Umar Wirayuda selaku Manager Jaringan & Relawan dari Sahabat Yatim.
Menurut dia, dukungan ini sangat berarti untuk meyakinkan anak-anak kami bahwa mereka tidak berjuang sendirian dalam meraih cita-cita.
Ekosistem belajar yang inklusif
Sejak Maret 2025, program “Oreo Berbagi Serunya Berilmu” telah menjangkau lebih dari 1.500 anak yatim piatu di berbagai daerah. Program dianggap mencerminkan peran kolektif banyak pihak dalam memperluas akses pendidikan yang lebih inklusif. Dukungan tersebut tidak hanya datang dari penyelenggara program dan mitra pelaksana, tetapi juga dari partisipasi publik yang memungkinkan inisiatif ini berjalan secara konsisten.


















