Orang Tua Jadi Sahabat Anak, Benteng Utama Lawan “Child Grooming”

Psikolog Irnida Terana . (matasemarang.com/Lia Dina)
Psikolog Irnida Terana . (matasemarang.com/Lia Dina)

MATASEMARANG.COMChild grooming saat ini menjadi perbincangan hangat di jagad dunia maya selepas aktris cantik Aurelie Moeremans merilis novel tentang kisah hidupnya berjudul “Broken Strings”.

Aurelie menceritakan kisah hidupnya sebagai penyintas child grooming yang mendapatkan rentetan kekerasan ketika berusia 15 tahun.

Apa Itu Child Grooming?

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  PPJI Jateng Dorong Semua Dapur MBG Miliki SLHS

Psikolog Irnida Terana menjelaskan sebenarnya child grooming ini mengarah pada kasus-kasus eksploitasi anak, sehingga dalam fenomena ini ada pelaku dan korban.

Pelaku child grooming ini pada awalnya memberikan iming-iming yang mengarah pada tujuan ekspoitasi.

Eksploitasinya sendiri tidak selalu berbau seksual, tapi bisa dalam berbagai bentuk seperti eksploitasi tenaga kerja hingga eksploitasi ekonomi sesuai dengan tujuan pelaku.

“Biasanya pelaku child grooming ini awalnya bersikap manis, memberikan janji-janji, harapan atau mungkin sesuatu yang mungkin diinginkan si korban yang memang sedang diinginkan korban. Jadi seperti itu kira-kira tanda-tandanya,” kata Irnida, Senin 26 Januari 2026.

BACA JUGA  PDAM Buka Suara Soal Hidran Terpendam Cor Beton di Daerah Majapahit

Irnida mengatakan, biasanya pelaku akan berusaha mengambil hati calon korbannya, hingga si korban percaya pada pelaku bahkan sampai ada yang ketergantungan pada si pelaku.

“Pelaku ini memang sengaja membuat korban nyaman dan seolah-olah hanya pelaku inilah yang mengerti tentang si korban,” tuturnya.

Irnida juga menyoroti biasanya pelaku child grooming ini memiliki trauma masa lalu yang mungkin memiliki pengalaman buruk yang serupa.

“Kita tidak bisa bilang ini penyakit ya, tapi biasanya ada trauma di masa lalu yang pelaku ini juga punya pengalaman buruk. Bisa jadi pelakunya juga dulunya korban,” tuturnya.

Pos terkait