Djoko Setijowarno: Pembukaan Koridor Baru Trans Jateng Bawa Transformasi Mobilitas Warga

Akademisi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno
Akademisi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno

MATASEMARANG.COM – Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah menargetkan koridor baru Trans Jateng rute Magelang–Secang–Temanggung ini mulai beroperasi pada tahun 2027.

Pada 2026, Pemprov Jateng fokus pada sosialisasi, pembangunan halte, dan pemantapan komitmen antar pemerintah daerah.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai hadirnya Trans Jateng di jalur ini akan membawa perubahan besar bagi mobilitas warga.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pakar Transportasi Sebut Ojek Online Adalah Bisnis Gagal

“Hadirnya Trans Jateng bukan sekadar menambah jumlah bus di jalan, tapi membawa transformasi mobilitas. Masyarakat akan merasakan efisiensi biaya, kepastian waktu, dan akses lebih mudah ke Borobudur,” ujar Djoko, Senin 26 Januari 2026 dalam keterangan tertulisnya.

Koridor ini akan menghubungkan Terminal Maron (Temanggung) – Terminal Tidar (Magelang) – Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang). Bus akan melintasi kawasan strategis Secang, simpul arus kendaraan dari Semarang, Magelang, dan Temanggung.

Sebanyak 14 unit bus akan melayani koridor ini dengan interval keberangkatan setiap 10–15 menit. Tarif bersubsidi tetap terjangkau, Rp4.000 untuk umum dan Rp1.000 bagi pelajar, buruh, serta veteran.

BACA JUGA  Djoko Setijowarno: ASN Perlu Diwajibkan Pakai BRT Trans Semarang, Wali Kota Bisa Beri Contoh

Djoko menyebutkan ada lima manfaat utama yang akan dirasakan Masyarakat, yaitu:

  1. Efisiensi biaya transportasi – Tarif murah membantu keluarga menghemat pengeluaran.
  2. Kepastian waktu dan kenyamanan – Jadwal teratur, bus ber-AC, bersih, dan aman.
  3. Konektivitas pariwisata – Memudahkan wisatawan menuju Borobudur tanpa berganti kendaraan berkali-kali.
  4. Keselamatan jalan – Mengurangi kemacetan dan risiko kecelakaan dengan beralihnya pengguna motor ke transportasi umum.
  5. Pemberdayaan operator lokal – Skema Buy The Service (BTS) merangkul sopir dan pengusaha angkutan eksisting agar tetap mendapat penghasilan.
BACA JUGA  Stasiun Batang Jadi Pemberhentian Kereta Api Argo Muria Eksekutif

“Skema BTS ini penting. Sopir dan pengusaha angkutan lokal tidak dimatikan, justru dirangkul agar tetap eksis dan mendapat kepastian penghasilan,” tambah Djoko.

Selain mendukung mobilitas pekerja dan pelajar, koridor ini juga memperkuat akses wisata.

Pos terkait