MATASEMARANG.COM – Singkong yang dulu dianggap pangan kelas dua kini menjelma menjadi komoditas strategis berkat inovasi modified cassava flour (mocaf).
Melalui Rumah Mocaf yang didirikan sejak 2015, Riza Azyumardi Azra berhasil mengubah stigma sekaligus mengangkat derajat petani singkong di Banjarnegara.
Berawal dari harga singkong yang hanya Rp200 per kilogram, kini petani bisa menikmati harga lebih dari Rp1.000 per kilogram.
Produk mocaf yang diolah Riza tidak hanya berupa tepung, tetapi juga dikembangkan menjadi chiffon cake, chocolate chips, selondok, gula cair, hingga tepung roti non-gluten.
“Dalam sebulan, pasar domestik menyerap 30–40 ton. Permintaan terus naik, bahkan pernah ekspor ke Oman, Turki, Malaysia, dan ada permintaan dari China,” ungkap Riza dikutip Minggu 17 Mei 2026.
Petani seperti Latif dari Desa Parakan, Purwanegara, merasakan langsung dampak positifnya. Dengan lahan 1–2 hektare, ia mampu memproduksi hingga 21 ton singkong per tahun.
“Sekarang kami bisa menjual lebih mudah dan harga lebih tinggi. Penjualan tepung mocaf sebulan bisa 10–15 ton,” ujarnya.
Data Dinas Ketahanan Pangan Jateng mencatat sejak 2022, produk turunan tepung lokal seperti mi mocaf, beras jagung, dan beras singkong telah dijadikan bagian dari cadangan pangan pemerintah.
Riza berharap mocaf bisa masuk program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mendapat subsidi agar mampu bersaing dengan tepung gandum.
“Kalau ada dukungan lebih, mocaf bisa jadi solusi pangan sehat sekaligus menopang ekonomi petani,” pungkasnya.


















