MATASEMARANG.COM – Kelengkeng Batang kini sedang diupayakan untuk naik kelas agar tak kalah dengan daerah lainnya.
Wakil Kepala Badan Pengelola Kampus di Luar Kampus Utama (BPK2U) Universitas Diponegoro Batang Prof. Dr. Eng. Munadi tidak menampik kualitas tampilan kulit buah masih menjadi kendala untuk memenuhi standar pasar modern.
“Kelengkeng Batang itu rasanya manis, ukurannya cukup besar, namun permukaannya masih kecoklatan. Kami hadirkan peneliti BRIN agar kualitasnya bisa naik kelas dengan harga bersaing,” ujarnya, Selasa 12 Mei 2026.
Sementara itu, Executive Director Microeconomics PT Indomarco Prismatama Feki Oktavianus mengatakan bahwa konsumen juga tetap melihat tampilan kulit buah saat ingin membeli sesuatu di minimarket.
Termasuk kelengkeng yang mungkin memiliki rasa manis, namun jika tampilannya kurang menarik bisa membuat konsumen urung untuk memasukkannya ke keranjang belanja.
“Kelengkeng harus sesuai standar konsumen minimarket, kulitnya bersih dan rasa manis alami,” katanya.
Perwakilan petani milenial, Aditya Reza Kusuma, mengakui warna kulit kelengkeng Batang masih kalah bening dibanding kualitas impor.
Ia menyambut baik dukungan Undip, BRIN, dan Indomaret yang memberi solusi pascapanen agar buah tampil lebih bersih dan bernilai jual tinggi.
Saat ini terdapat sekitar 8.000 pohon kelengkeng lokal Batang yang tersebar di Kuripan Subah, Timbang Subah, Tersono, dan Ngadirejo Reban.
Dalam kesempatan yang sama, Dandim 0736 Batang Letkol Inf Andhika Baroto Chrishastantyo menyatakan siap mendukung ketahanan pangan dengan mengoptimalkan lahan milik Kodim seluas 10 hektar di Desa Tragung. Lahan tersebut akan ditinjau langsung oleh Indomaret untuk melihat potensi penanaman kelengkeng.


















