Untuk Apa Banggakan Nasab? Sebuah Otokritik

Oleh KH Imam Jazuli Lc, MA *

MATASEMARANG.COM – Polemik nasab pada awal tahun ini memang sudah tidak sesanter tahun sebelumnya. Awal warsa lalu, ruang digital dan majelis-majelis kita sesak oleh kegaduhan yang tidak produktif.

Energi kolektif umat, khususnya di lingkaran Nahdlatul Ulama (NU), tersedot habis untuk membedah validitas mengenai nasab atau garis keturunan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Mungkinkah Mencipta Karya Bermakna Tanpa Jadi Budak Algoritma?

Kegaduhan karena nasab merembet ke mana-mana. Kita menyaksikan tokoh tertentu ditolak di berbagai tempat, masyarakat pun menjadi terbelah.

Ironisnya, saat kita sibuk berdebat mengenai nasab dan siapa yang paling “murni” darahnya, kita justru abai pada realitas sosiologis yang ada di depan mata, yaitu kemiskinan struktural dan ketertinggalan intelektual.

Sudah saatnya kita melakukan otokritik tajam. Kita perlu bermigrasi dari mentalitas “berebut nasab” menuju perjuangan “memperbaiki nasib”.

Mengapa isu nasab begitu laku dijual di kalangan akar rumput Nahdliyin? Jawabannya pahit. Karena keterbatasan akses ekonomi serta faktor pendidikan.

BACA JUGA  'Rojali' dan 'Rohana' Akronim Jenaka Pemotret Daya Beli Cekak

Ekonomi yang pas-pasan dan rendahnya tingkat pendidikan menjadi penyakit akut yang sangat mudah menjadi penyulut seseorang untuk tidak lagi berpikir masuk akal, termasuk terkait masalah nasab.

Ketika seseorang hidup dalam kemiskinan dan tidak memiliki pencapaian intelektual yang bisa dibanggakan, mereka cenderung mencari “pegangan” pada kemuliaan orang lain, salah satunya lewat jalur nasab.

Mengultuskan Nasab dan Kesucian

Mengultuskan nasab tertentu adalah cara instan untuk merasa dekat dengan kesucian, tanpa harus berpayah-payah memperbaiki kualitas diri.

Pos terkait