Untuk Apa Banggakan Nasab? Sebuah Otokritik

Ini sungguh ironis, kita sering dipertontonkan dengan adegan-adegan yang tidak masuk akal, pameran nasab yang tidak mencerdaskan.

Struktur masyarakat kita masih terjebak pada penghormatan buta berdasarkan pada nasab atau kasta darah, bukan kasta karya. Ini menciptakan ekosistem di mana “siapa kakekmu” lebih dianggap penting daripada “apa kontribusimu”.

Seharusnya kita berani berkata lantang, “inilah karyaku”, bukan justru berkata ” Inilah karya bapakku, kakekku atau leluhurku” yang bertumpu pada nasab.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Belajar dari Blunder Bupati Pati

Selama sumber daya manusia kita masih rendah, kita akan selalu menjadi objek manipulasi narasi nasab. Orang yang lapar dan kurang literasi lebih mudah dikendalikan dengan janji keberkahan lewat penghambaan pada figur, daripada diajak berpikir kritis tentang kedaulatan ekonomi.

Ada fenomena menarik, sekaligus menyedihkan dalam polemik nasab ini. Sebagian pihak yang dengan keras menafikan keabsahan nasab Ba’alawi, ternyata di saat yang sama membangun narasi baru untuk mengklaim diri sebagai keturunan Rasulullah dari jalur Walisongo atau raja-raja Jawa.

BACA JUGA  Langkah Cerdik Pemkot Semarang Jinakkan Penunggak “Kakap” PBB

Ini adalah lingkaran setan yang terus berputar ke arah salah. Kita hanya berpindah dari satu berhala nasab ke berhala nasab lainnya. Jika kita menolak satu klaim hanya untuk meninggikan klaim personal kita sendiri, maka substansi masalahnya tetap sama: kita masih kecanduan pada legitimasi tulang belulang.

Mentalitas ini justru mengonfirmasi bahwa kita belum merdeka secara intelektual. Kita masih merasa tidak cukup berharga sebagai manusia mandiri jika tidak “menyantol” pada nama besar leluhur alias nasab.

Pos terkait