Apa dampak jika energi mengenai nasab ini terus dipelihara? Stagnasi intelektual. Dalam organisasi, jabatan atau kehormatan cenderung diberikan berdasarkan kedekatan darah atau trah, bukan pada kompetensi dan integritas.
Budaya seperti ini akan menghambat kemajuan sebuah lembaga atau organisasi apapun dan bahkan mengancam keberlanjutan sebuah jam’iyyah karena akan dihuni oleh orang-orang yang tidak punya kompetensi.
Dampak lainnya, umat terbelah menjadi faksi-faksi yang saling merendahkan silsilah. Ini tentu saja melemahkan ukhuwah nahdliyyah yang selama ini menjadi fondasi kekuatan NU.
Diskusi di pesantren dan kampus-kampus NU seharusnya fokus pada diskursus kekinian, seperti kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, atau kedaulatan pangan, bukan malah mundur ke perdebatan tes DNA yang bersifat partikular.
Langkah taktis
Untuk keluar dari kubangan ini, kita membutuhkan revolusi mentalitas Nahdliyin yang radikal, berupa pendidikan yang membebaskan. Majelis ta’lim nahdliyin dan kurikulum di pesantren atau madrasah harus mulai menekankan pada metodologi berpikir kritis (tashwirul afkar).
Nahdliyin atau kalangan santri harus diajarkan bahwa kemuliaan hanya bisa diraih melalui ilmu dan amal, sebagaimana bunyi kaidah: Al-fadhlu lil mubtadi’ wa in kana al-muqallidu afdhal (kemuliaan itu bagi mereka yang memulai karya, meski yang mengikuti mungkin lebih mulia nasabnya).
Kemudian kedaulatan ekonomi. Nasib kaum Nahdliyin tidak akan berubah dengan “tahlilan” nasab. Kita butuh gerakan kewirausahaan kolektif. Orang yang mandiri secara ekonomi tidak akan mudah “disihir” oleh klaim-klaim feodalistik yang merendahkan martabat manusianya.


















