Untuk Apa Banggakan Nasab? Sebuah Otokritik

Lalu kita perlu melakukan dekonstruksi budaya penghambaan. Menghormati ulama adalah kewajiban, namun menghamba pada personil (apalagi sekadar karena faktor darah) adalah bentuk kebodohan. Kita harus mulai menghargai orang karena gagasan dan dedikasinya pada kemanusiaan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa amalnyalah yang akan mempercepat seseorang menuju surga, bukan nasabnya.

Jika kita mengaku mencintai KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), maka warisan yang harus kita jaga adalah semangat intelektual dan pergerakan (nahdlah), bukan sibuk mencari-cari dahan silsilah untuk bergantung.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Refleksi Akhir Tahun: Tidak Semua Hidup Harus Dirayakan

Siapapun nakhoda NU nanti, harus menyudahi kegaduhan nasab ini. Mari kita kembali ke khittah: Mendidik yang bodoh, memberdayakan yang miskin, dan memanusiakan manusia.

Kemuliaan NU di masa depan ditentukan oleh seberapa banyak ilmuwan, teknokrat, dan pengusaha hebat yang lahir dari rahimnya, bukan seberapa panjang silsilah yang bisa kita tulis di secarik kertas. Nasib kita, ada di tangan kita sendiri, bukan di darah kakek moyang kita. Wallahu’alam bishawab.

*) Penulis  adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir (Dept. Theology and Philosophy); alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (Dept. Politic and Strategy); alumni Universiti Malaya (Dept. International Strategic and Defence Studies); Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015

Pos terkait