Benarkah Proyek Panas Bumi di Ungaran Merusak Lingkungan, Ini Kata Pakar Undip

MATASEMARANG.COM – Benarkah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, bakal merusak sumber air dan lingkungan seperti dikhawatirkan banyak warga?

Pakar geothermal Universitas Diponegoro Semarang Prof Agus Setyawan menjawab berbagai kekhawatiran masyarakat terkait rencana pembangunan PLTP Gunung Ungaran tersebut.

“Banyak kekhawatiran kerusakan di lingkungan karena wilayah kerjanya 29.000 hektare. Itu bukan wilayahnya (sebesar itu, red.) harus dikeruk semua,” katanya di Semarang, Minggu malam.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut disampaikannya saat Suluk Senen Pahingan edisi ke-43 mengangkat tema “Panas Bumi: Mitos dan Sains” di Joglo Pondok Pesantren Al Itqon, Semarang.

Ia mengibaratkan, WKP (wilayah kerja panas bumi) seluas itu sebagai keseluruhan badan manusia, tetapi tidak lantas dikerjakan semua, melainkan disurvei satu-persatu mana daerah yang potensial.

“Wellpad (titik eksplorasi) pengeboran mungkin setengahnya pendopo ini. Dilihat dari lahan yang digunakan kecil, mungkin 3 ha. Cuma, surveinya harus banyak,” katanya.

Air Tanah

Kekhawatiran selanjutnya adalah air tanah akan berkurang karena aktivitas pengeboran, tetapi ia menjelaskan kedalaman geothermal 1.500-2.500 meter, sedangkan air tanah ada di kedalaman 100-200 meter.

“Air permukaan hanya dipakai saat ‘ngebor’ untuk menentukan titik pengeboran,” kata Guru Besar Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip yang berkesempatan belajar geothermal di Jepang itu.

Kemudian, kekhawatiran PLTP Gunung Ungaran akan memunculkan gas beracun, terutama H2S (Hidrogen Sulfida) atau sulfur belerang, ia membandingkan dengan kondisi PLTP Dieng, serta dilakukannya pemantauan setiap saat.

Pos terkait