Ketua Pengurus Yayasan Badak Indonesia (YABI) Jansen Manansang menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung program di SRS TNWK.
Ia juga secara khusus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada International Rhino Foundation (IRF), TSI dan TFCA Sumatera atas dukungan pendanaan yang diberikan untuk mendukung keberlangsungan program di SRS TNWK.
“Kami dan Balai Taman Nasional Way Kambas berkomitmen untuk terus memantau kondisi kesehatan induk, perkembangan kebuntingan, serta kesiapan induk hingga proses kelahiran. Tim medis SRS akan melakukan pemantauan secara intensif agar Ratu dan Delilah dapat melalui masa kebuntingan dengan baik hingga melahirkan anak yang sehat,” ujarnya.
Badak sumatera berstatus kritis terancam punah menurut IUCN Red List, dengan jumlah tidak lebih dari 80 ekor di alam. Satwa ini kini hanya tersisa di Indonesia, tersebar di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kalimantan Timur.
Dengan siklus kebuntingan 15-16 bulan dan masa menyapih hingga dua tahun, setiap kebuntingan dan kelahiran tidak hanya menambah individu baru, tetapi juga memperkuat peluang menjaga keragaman genetik dan membangun populasi untuk konservasi jangka panjang.
Melalui program pengembangbiakan di SRS TNWK, hingga kini telah lahir lima ekor badak sumatera: Andatu (2012), Delilah (2016), Sedah Mirah (2022), Anggi (2023), dan Indra (2023). Program ini dikelola secara kolaborasi Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Way Kambas dan mitra, YABI.


















