“Kami percaya bahwa dukungan terhadap pendidikan, terutama bagi anak-anak yatim piatu adalah investasi strategis untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan,” kata Anggya.
Meski demikian, alat bantu belajar saja tidak cukup. Diperlukan pendampingan pendidik yang memahami prinsip perkembangan anak agar playful learning dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang terencana antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan sektor swasta, playful learning berpotensi menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Pendidikan tidak lagi semata-mata berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada tumbuh kembang anak secara utuh; kognitif, emosional, dan sosial.
Pendekatan ini diharapkan dapat membuka ruang tumbuh yang lebih adil bagi setiap anak Indonesia, termasuk mereka yang selama ini berada dalam keterbatasan, agar dapat belajar, berkembang, dan meraih masa depan dengan lebih percaya diri. (Ant)


















