Jika angka pertumbuhan ekonomi tersebut benar adanya, berarti pertumbuhan itu tidak membawa pemerataan. Kemungkinan besar pertumbuhan itu lebih banyak dilecut oleh sektor-sektor industri padat modal. Apalagi pada periode tersebut tidak ada momen Lebaran yang bisa mendongkrak konsumsi.
Kita tentu tidak ingin pertumbuhan ekonomi tersebut hanya dinikmati sekelompok orang dan perusahaan-perusahaan besar, eksportir tambang, terutama perusahaan teknologi yang memiliki profit margin besar namun hanya sedikit menyerap tenaga kerja. Data terakhir memang menunjukkan belanja via aplikasi daring terus bertumbuh, begitu pula transaksi menggunakan uang elektronik.
Apa pun, kita menginginkan setiap tetesan dari hasil pertumbuhan–berapa pun besarannya–, itu harus bisa membawa kemaslahatan sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh para pendiri bangsa ini.
Jangan sampai pertumbunan ekonomi itu hanya jadi prasasti beku atas prestasi sebuah rezim. Sementara, kondisi riil yang dihadapi sebagian besar rakyat menunjukkan stagnasi bahkan kemunduran.
Situasi sulit yang sesungguhnya dihadapi mereka–tapi oleh penguasa didaku sebaliknya–itulah yang bikin mereka terusik. Dengan cara genuine, mereka mengibarkan panji One Piece. Pengibaran bendera ini sebagai sindiran terbuka bahkan perlawanan atas nasib mereka hari-hari ini, terutama jutaan Gen Z, yang masih kelabakan mendapatkan pekerjaan, sementara orang tua mereka sebentar lagi memasuki pensiun. ***



















