MATASEMARANG.COM – Kabupaten Boyolali diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru setelah perusahaan asal China PT Foshan Jinke memastikan investasi senilai Rp160 miliar untuk proyek industri air minum.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyebut investasi ini sejalan dengan strategi pemerintah daerah dalam menarik modal asing sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Nilai investasi awal diperkirakan Rp25–30 miliar dan berpotensi berkembang hingga Rp100 miliar. Foshan Jinke bahkan menyiapkan total investasi sekitar 7–10 juta dolar AS atau Rp160 miliar,” jelasnya.
Dari investasi ini, ada beberapa potensi ekonomi yang bisa terjadi di Boyolali dan Jawa Tengah, antara lain:
- Peningkatan PAD: Pajak dan retribusi dari industri air minum akan menambah pendapatan daerah.
- Lapangan Kerja Baru: Proyek ini diperkirakan menyerap tenaga kerja lokal, mulai dari teknisi, operator, hingga tenaga administrasi.
- Industri Turunan: Kehadiran pabrik air minum akan mendorong tumbuhnya sektor pendukung seperti transportasi, logistik, dan kemasan.
- Daya Saing Ekspor: Dengan kualitas sumber mata air yang bersih, Boyolali berpeluang menjadi basis produksi air minum untuk pasar domestik maupun internasional.
Pemprov Jateng menegaskan dukungan penuh terhadap investasi ini selama sesuai regulasi, terutama penggunaan air permukaan maupun air bawah tanah.
Lokasi usaha juga dipastikan jauh dari permukiman dan tidak menabrak lahan persawahan.
Perwakilan Foshan Jinke William Yeoh menyebut kualitas sumber mata air di Boyolali sangat sesuai dengan standar industri.
“Airnya sangat bersih. Para investor sangat puas dengan kualitas sumber mata air di sini,” ujarnya.
Investasi ini diharapkan memperkuat industri air minum di Jawa Tengah, meningkatkan daya tarik investasi asing, serta memperluas peluang ekonomi masyarakat Boyolali.
Dengan modal besar yang masuk, daerah ini berpotensi menjadi hub industri air minum di Indonesia.

















