Untuk menjawab persoalan tersebut, tim yang ia ketuai itu merancang mesin pengayak pasir daur ulang berbasis sistem eksentrik.
“Mesin ini mampu memisahkan sisa logam dan debu dari pasir bekas cetakan sehingga dapat digunakan kembali sebagai bahan baku pembuatan cetakan baru,” jelasnya Jumat 21 November 2025.
Program yang dikerjakan dari bulan April hingga November ini menurutnya dapat menekan biaya pembelian pasir baru hingga 40 persen, sekaligus memperkenalkan konsep green manufacturing di kalangan pelaku industri kecil.
Mesin pengayak yang dibuat memiliki dimensi 1.800×1.000×1.053 mm, dilengkapi motor listrik, serta tiga tingkat pengayakan dengan ukuran mesh 10, 24, dan 40.
Alat ini dirancang dengan sistem getar eksentrik yang efektif memisahkan partikel pasir dari kerak dan gumpalan residu pengecoran.
“Tidak hanya menyerahkan mesin, kami juga memberikan pelatihan pengoperasian mesin dan juga bagaimana cara merawatnya,” ujarnya lebih lanjut.
Padang menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Polines dalam membantu UMKM industri logam agar lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dengan penerapan teknologi daur ulang pasir silika, industri pengecoran dapat menghemat biaya produksi sekaligus mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Tim Prodi TMPP menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Direktur dan juga P3M Polines atas dukungan dana yang telah diberikan, sehingga program ini dapat berdampak langsung kepada mitra industri.
Di sisi lain, pimpinan CV RAM Aran D. Pusponegoro menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai inovasi dari Polines sangat membantu usaha di bidang pengecoran untuk beradaptasi terhadap tantangan biaya bahan baku yang terus meningkat.


















