Politik Trah yang Kian Dianggap Lumrah

Dinastil politik
Ilustrasi dinasti politik. Freepik

MATASEMARANG.COM – Setelah lengser dari kursi Presiden hampir 1,5 tahun lalu, Joko Widodo mengirimkan sinyal keras belum mau mandeg pandito ratu. Dalam wacana Jawa, istilah ini ditujukan kepada pemimpin yang turun takhta lalu menjadi petapa bijaksana.

Menjelang akhir duduk di kursi kepresidenan, Jokowi memang pernah menyatakan akan pulang ke Solo menjadi orang biasa. Jokowi juga pernah bilang anak-anaknya memilih menekuni bisnis, tidak tertarik terjun ke politik.

Namun, bagi orang yang pernah berkuasa–apalagi sedigdaya kepala negara–kekuasaan yang diperjuangkan melalui jalur politik acap kambuh. Panggung politik yang menjanjikan kekuasaan, bagi mereka, terlalu eman-eman bila dilewatkan begitu saja. Apalagi pendukungnya juga masih banyak.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Rumah dengan Pola Ruang Mengalir: Solusi Hunian Nyaman dan Fungsional

Kata George Orwell, kekuasaan itu memang candu. Kalau pernah menyesap bertahun-tahun dan menikmatinya, akan sulit melepaskannya. Kekuasaan memamg nagih.

Apalagi, meski sudah bukan Presiden, pendukung militannya masih banyak. Mungkin populasinya sebanding dengan para pembencinya (haters). Potret yang lumrah dalam percaturan politik. Presiden AS Donald Trump juga mengalami hal sama.

Terbelahnya fans dengan haters Jokowi terlihat jelas di jagat digital, juga di dunia nyata.

Oleh karen itu, kehadiran Jokowi di Makassar untuk menghadiri Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada 30 Januari 2026 juga mendapat protes. Pemprotes tidak ingin Jokowi dan anaknya, Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI, menginjakkan kaki di Makassar.

BACA JUGA  Pertumbuhan yang Mengejutkan, Gen Z, dan One Piece

Pidato Jokowi yang berapi-api di mimbar Rakernas PSI memang terlihat berbeda dibandingkan selama ia berbicara ketika menjadi pejabat publik. Cenderung datar. Diksi yang dipilih pun sering normatif, menyerahkan publik untuk menafsirkannya.

Pos terkait