Oleh Lia Wanadriani Santosa
MATASEMARANG.COM – Kawasan lereng Muria dikenal sebagai wilayah strategis dengan fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem. Di sisi lain, lokasi ini dikenal sebagai salah satu penghasil kopi di Jawa Tengah, termasuk Desa Japan, Colo dan Lau yang sama-sama masuk Kecamatan Dawe, Kudus.
Kebanyakan lahan di Muria khususnya Japan ditanami bibit berjenis robusta dan hanya sedikit yang arabika. Data tahun 2023 menunjukkan, lahan tanaman kopi memiliki luas sekitar 75 hektare dan setiap tahunnya mampu menghasilkan sekitar 200 ton lebih biji kopi per musim.
Lahan yang ditanami kopi pun ada yang milik Pemerintah, dikelola oleh Perhutani. Namun ada juga yang ditanam di lahan milik petani sendiri.
Selain kopi, dalam satu lahan biasanya juga ditanami tanaman buah. Ini lantaran kopi butuh naungan dan harus tanaman buah. Petani di Japan umumnya memilih alpukat dan durian sebagai naungan karena cocok ditanam di tanah mereka.
Soal rasa, Kepala Desa Japan dan Ketua Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria), Teguh Budi Wiyono percaya diri kopi Muria punya rasa lebih manis dibandingkan wilayah lain di Jawa Tengah yang lebih asam. Unsur kalium dalam tanah di Muria disebut-sebut menjadi sebab rasa manis ini.
Promosi kopi Muria dilakukan salah satunya melalui gelaran tradisi tahunan bernama wiwit kopi yang menandai awal panen raya kopi. Ini juga merupakan upaya warga termasuk di Japan untuk menghormati alam dan menyambut rezeki.
Biasanya tradisi ini dilakukan setiap bulan Agustus. Saat itu, semua warga yang menanam kopi dan pecinta kopi diundang untuk berkumpul bersama.


















