Secara global, kata Najib, lebih dari satu juta kasus kawasaki telah tercatat. Di Indonesia, Najib mulai melakukan sosialisasi dan penanganan sejak 1999 dan telah menangani lebih dari 2.000 kasus.
Najib, yang terhimpun dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI, juga menilai penyakit itu sering dianggap langka, padahal jumlah kasus cukup banyak dan berpotensi tidak terdiagnosis. Keterlambatan diagnosis membuat anak datang dalam kondisi sudah terjadi kelainan koroner.
Dia menambahkan, dengan terapi yang diberikan lebih awal, risiko kelainan arteri koroner dapat ditekan hingga sekitar dua sampai tiga persen. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal serta rujukan cepat kepada dokter anak dan kardiolog anak. [Ant]


















