MATASEMARANG.COM – Memakai baju bekas (thrifting) tanpa proses pembersihan yang benar dapat meningkatkan risiko gangguan kulit hingga penularan infeksi.
“Risiko utama memakai baju bekas yang tidak dibersihkan dengan baik adalah penularan penyakit kulit dan iritasi pada kulit,” kata dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV.
Dokter yang juga bergabung di Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) itu menjelaskan pakaian bekas masih dapat menyimpan sisa keringat, jamur, bakteri, serta residu bahan kimia dari pemilik sebelumnya.
Jika langsung digunakan tanpa dicuci, kondisi itu dapat memicu reaksi pada kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif.
Keluhan yang dapat muncul antara lain gatal, ruam kemerahan, hingga infeksi kulit.
Menurut dokter Fitria, infeksi yang paling sering berpotensi menular lewat pakaian bekas adalah infeksi jamur seperti kurap karena dapat bertahan cukup lama di serat kain. Selain itu, penyakit kudis atau skabies juga dapat menular melalui pakaian yang terkontaminasi tungau.
“Selain jamur, ada juga skabies dan kutu yang bisa berpindah kalau bajunya dipakai cukup lama. Infeksi bakteri ringan juga bisa terjadi, meski lebih jarang,” ujar dokter lulusan pendidikan spesialis Dermatologi dan Venereologi Universitas Indonesia itu.
Ia menambahkan mikroorganisme seperti jamur, tungau, dan kutu dapat bertahan di serat kain selama beberapa hari hingga berminggu-minggu, terutama bila pakaian dalam kondisi lembap dan tidak dibersihkan dengan baik.

















