MATASEMARANG.COM – Sugeng Asmoro (60), warga RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli Kecamatan Tembalang hingga saat ini masih merasa was-was saat hujan mengguyur cukup lebat. Pasalnya, ancaman tanah gerak hingga saat ini masih terus menghantui.
Sugeng yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah tersebut mengaku jika pergerakan tanah terakhir terjadi pada tahun 1998. Tak disangka, pada 3 Januari 2026, pergerakan tanah di wilayah tempat tinggalnya itu kembali terjadi setelah hujan lebat mengguyur Kota Semarang.
Hingga hari ke 10, pergerakan tanah masih terjadi, bahkan ia menceritakan pada Kamis, 12 Februari 2026 malam ada bunyi “grek-grek” yang merupakan indikasi pergerakan tanah.
“Semalam itu masih gerak walaupun tidak signifikan ada bunyi ‘grek-grek’ tiap malam. Kami was-was kalau hujan deras itu pasti ada pergerakan,” kata dia.
Sugeng mengatakan hingga saat ini ada 4 rumah yang roboh dan belasan lainnya rusak. Warga juga secara mandiri melakukan pembersihan dan pembongkaran untuk mengantisipasi kejadian yang lebih parah lagi.
“Kita bersihkan dan bongkar sendiri karena banyak anak kecil jadi kita antisipasi sendiri,” tuturnya.
Ia berharap kepada pemerintah untuk bisa memberikan tempat tinggal bagi warga, sebab tanah yang dipakai tersebut merupakan tanah milik TNI AD.
“Harapan kita kalau pemerintah bisa memberikan tempat tinggal, ini tempat kita numpang punya TNI AD, kalau pemerintah bisa memberikan tempat tinggal lebih layak,” harapnya.


















