MATASEMARANG.COM – Kabupaten Cilacap semakin menegaskan perannya sebagai pusat ekonomi di Jawa bagian selatan.
Dua kawasan, yakni Maos dan Majenang, diproyeksikan sebagai wilayah pendukung ketahanan pangan melalui strategi tata ruang yang berorientasi pada pemerataan dan keberlanjutan.
Wakil Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya menjelaskan bahwa Maos akan dikembangkan sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dengan fokus pada pertanian dan perdagangan jasa.
Dari total luas 1.883 hektare, lebih dari 61 persen dialokasikan untuk tanaman pangan.
Sementara itu, Majenang diarahkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berbasis pertanian. Dengan dominasi lahan pangan, Majenang menjadi penopang penting ketahanan pangan di wilayah barat Cilacap.
“Dominasi lahan pangan ini menunjukkan komitmen kami dalam memperkuat Agropolitan,” ujar Ammy dikutip dari laman resmi Pemprov Jateng, Jumat 12 Desember 2025.
Ia menegaskan bahwa penataan ruang bukan sekadar peta wilayah, melainkan instrumen pembangunan jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus pemerataan pendapatan masyarakat.
Cilacap sendiri telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Keberadaan Kilang Pertamina RU IV, PLTU Cilacap, serta capaian PDRB tinggi dengan Gini Ratio 0,32 menjadi bukti keberhasilan pembangunan yang merata.
Selain sektor pangan dan energi, konektivitas wilayah juga menjadi perhatian. Rencana pembangunan Tol Cilacap–Yogyakarta dan Tol Pejagan–Cilacap diyakini akan memperkuat peran Cilacap sebagai simpul ekonomi nasional sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang lebih merata antarkawasan.





















