Di samping keberanian tim teknis di lapangan, pemanfaatan teknologi citra suhu (thermal) menjadi inovasi penting yang dinilai murah namun sangat efektif untuk mendiagnosa potensi ancaman kebakaran sebelum timbul asap pekat.
“Teknologi ini sangat membantu, baik teropong maupun drone thermal. Kamera thermal bisa mendiagnosa titik-titik mana yang menyimpan potensi bara api berdasarkan jarak dan suhunya. Meski dari luar terlihat padam, kalau di kamera masih berwarna merah, artinya bawahnya masih panas,” terangnya.
Pemkot Semarang berencana menjadikan pemantauan berkala menggunakan instrumen thermalsebagai prosedur operasional standar (SOP) harian bagi pengelola TPA.
Guna mengantisipasi munculnya kembali titik api baru di tengah musim kemarau, Pemkot Semarang menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang untuk menyiagakan personel dan prasarana secara nonstop.
Iswar menegaskan bahwa penyiagaan 24 jam penuh harus diimbangi dengan kesiapan pasokan air dan pengecekan suhu secara rutin pada pagi, sore, dan malam hari.
“Jaga 24 jam itu wajib, tapi sarana prasarananya juga harus dilengkapi. Pagi, sore, dan malam hari dicek terus dengan thermal. Begitu terlihat ada warna merah di bawah tumpukan sampah, petugas DLH harus langsung melakukan pendinginan dengan sumber air yang disiapkan. Jangan tunggu sampai apinya membesar dan asapnya tinggi baru kita sibuk penanganan,” pungkasnya.


















