HPN 2026: PWI Jateng Tegaskan Peran Pers sebagai Kontrol Sosial

Tasyakuran HPN 2026 PWI Jateng. (matasemarang.com/Lia Dina)
Tasyakuran HPN 2026 PWI Jateng. (matasemarang.com/Lia Dina)

“Dulu media massa ibarat head keeper dalam kehidupan demokrasi. Hari ini, dunia pers berada di pusaran badai yang besar. Kalau kita berjalan sendiri, pers tidak akan bisa menang,” kata Hery.

Hery menegaskan, kolaborasi menjadi kunci agar pers mampu bertahan dan berkembang di tengah disrupsi digital.

Menurutnya, transformasi digital tidak cukup sekadar memindahkan platform ke ranah daring, tetapi juga menuntut kesiapan insan pers untuk berdamai dengan teknologi dan memanfaatkannya secara bijak.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  HPN 2026, PWI Jateng Suguhkan Beragam Kegiatan Bermakna

“Kolaborasi adalah nyawa baru pers. AI bisa menulis teks, tetapi tidak bisa melawan ketidakadilan di lapangan. Di situlah peran wartawan tetap tak tergantikan,” tuturnya.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol. Artanto mengemukakan, kehadirannya dalam kegiatan Tasyakuran HPN Jateng 2026 ini merupakan wujud hubungan harmonis antara kepolisian dan insan pers dalam menyampaikan informasi yang edukatif, menyejukkan, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Kombes Pol. Artanto menyampaikan apresiasi mendalam terhadap peran wartawan.

BACA JUGA  Pers Harus Menjadi "Rumah" Penjernih Informasi

Menurutnya, usia delapan dekade PWI menjadi bukti ketangguhan pers Indonesia dalam mengawal demokrasi dan kepentingan publik.

“Bagi kami, awak media adalah mitra utama dalam mewujudkan Harkamtibmas. Selama ini, Polda Jateng dan rekan-rekan media telah membangun sinergi yang sangat baik, terutama dalam memberikan informasi yang akurat serta edukasi yang menyejukkan bagi masyarakat,” tutur Kombes Pol. Artanto.

Awak media bukan sekadar peliput berita, melainkan mitra strategis Polri dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas). Di tengah derasnya arus informasi digital, peran pers sebagai fungsi kontrol sosial sangat krusial untuk meluruskan narasi-narasi yang dapat memicu keresahan.

Pos terkait