“Kami tak akan melupakan Norwegia,” kata Trump, sembari menambahkan bahwa kegagalan dirinya mendapat Hadiah Nobel “menjadi contoh lain dari bagaimana Norwegia dan negara-negara lain merongrong negara kita”.
Selepas itu, Trump kembali melontarkan kecamannya terhadap Navi Pillay sebagai seseorang yang “tak dikenal siapapun” dan “membenci Israel” melalui platform Truth Social.
“Saya tak tahu apa-apa soal perempuan itu, dan orang lain pun tak tahu dia! Faktanya, sepanjang yang saya tahu, tak ada yang tahu dirinya selain fakta bahwa dia, jelas-jelas, membenci Israel,” kata Trump.
“Hadiah Nobel ‘Perdamaian’ akan selamanya terdiskreditkan oleh segelintir Ideolog Radikal yang Anti-demokrasi dan merupakan Musuh Peradaban!” ujarnya lagi.
Trump sudah berulang kali menegaskan dirinya merupakan tokoh yang paling pantas mendapat Nobel Perdamaian dan terus mengungkapkan kekesalannya karena tidak mendapatkannya hingga saat ini.
Pillay menjabat sebagai presiden Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda, hakim ketua Mahkamah Pidana Internasional (ICC), dan Komisioner Tinggi PBB untuk HAM.
Pada periode 2021-2025, ia merupakan pemimpin komisi penyelidikan PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki yang menyimpulkan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza. Temuan itu dibantah keras rezim zionis Israel.
Komite Nobel menyampaikan bahwa Pillay memegang peran sentral dalam upaya mengadili penjahat perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida. Pillay juga berhasil memperluas jangkauan hukum internasional. [Ant]














