Walaupun demikian, putra daerah Kota Medan itu tak patah arang. Syahganda melanjutkan studinya hingga tuntas mendapatkan gelar sarjana di kampus swasta.
Pria kelahiran 27 November 1965 itu kemudian lanjut mendaftar sebagai mahasiswa S2 Program Studi Pembangunan ITB dan lulus pada tahun 2005.
Kemudian, Syahganda lanjut mengambil studi doktoral di FISIP UI, kemudian lulus dengan disertasi berjudul “Analisa Pengaruh Jaminan Upah Layak, Jaminan Sosial, dan Solidaritas Sosial terhadap Kesejahteraan Buruh”.
Disertasi itu diuji dalam sidang terbuka pada 17 Januari 2015 yang dipimpin Dekan FISIP UI kala itu, Dr. Arie Setiabudi Soesilo.
Dalam riset disertasinya itu, Syahganda menyimpulkan jaminan upah layak, jaminan sosial, dan solidaritas sosial berpengaruh secara simultan terhadap kesejahteraan buruh.
Seiring dengan perjalanannya di dunia akademis, Syahganda juga lama aktif berkarier sebagai politikus.
Pada awal-awal reformasi saat masa pemerintahan Presiden Ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie, Syahganda dikenal dekat dengan Adi Sasono, yang kala itu menjabat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
Kedekatan itu pula yang mendorong Syahganda mendirikan ormas Daulat Rakyat dengan ketuanya Cacuk Sudaryanto, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Koperasi di Kementerian Koperasi.
Ormas tersebut kemudian melembaga menjadi partai dan ikut pemilihan umum pada tahun 1999.
Namun, lengsernya Habibie juga turut berpengaruh terhadap perjalanan politik Syahganda. Ia lanjut terlibat dalam pembentukan Partai Merdeka bersama Adi Sasono.


















