Seruan Kesadaran Ekologis dari Bencana Sumatra Barat

Bantuan Medis dan Psikososial dari Undip

Hujan deras yang mengguyur Sumatra Barat akhir November 2025, memicu banjir bandang dan longsor di berbagai penjuru. Dalam sekejap, akses antarnagari terputus, rumah-rumah tenggelam dalam lumpur, dan ribuan warga terisolasi. Di tengah kegentingan itu, Tim Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) Universitas Diponegoro (Undip) bergerak cepat.

Mereka hadir membawa harapan: dokter, perawat, dan sukarelawan lintas disiplin turun langsung ke Kabupaten Agam dan Kota Padang, area terdampak terparah. Tim medis Undip segera membuka layanan kesehatan darurat di puskesmas setempat, sementara tim lain menyalurkan bantuan logistik ke pelosok yang sulit dijangkau. Tragedi yang menggamit empati publik ini bukan sekadar kisah derita alam, melainkan juga cerita tentang solidaritas dan aksi nyata masyarakat sipil.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Karma Instan dari Blunder Kasus "Tumbler"

Dalam situasi darurat, kebutuhan paling mendesak adalah pelayanan kesehatan. Asukarelawan Undip mendapati banyak warga mengalami ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) akibat udara lembap di pengungsian, diare karena keterbatasan air bersih, serta luka-luka dan dermatitis kontak akibat terpapar lumpur banjir.

Anak-anak tampak demam, beberapa bahkan mengalami kejang demam dan gejala campak karena imunisasi terputus. Pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan asma pun berdatangan; pengobatan rutin mereka terhenti oleh bencana sehingga kondisi memburuk. Di posko kesehatan, tim dokter Undip tak hanya mengobati, tetapi juga melakukan edukasi singkat – misalnya tentang kebersihan air dan sanitasi – untuk mencegah ledakan penyakit pascabencana seperti batuk-pilek massal atau wabah diare.

Pos terkait