Data BNPB menunjukkan ribuan bencana hidrometeorologi terjadi setiap tahun (2.726 kejadian hingga November 2025) sehingga kesiapsiagaan medis menjadi investasi vital. Gerak cepat D-DART Undip ini menegaskan betapa strategisnya peran tenaga medis dalam mencegah krisis kesehatan yang lebih buruk di tengah puing bencana.
Tak kalah penting adalah pemulihan di ranah psiko-sosial. Di Palembayan, tim psikososial Undip mengadakan sesi pendampingan bagi anak-anak berupa edukasi perlindungan diri, terapi warna dengan krayon, hingga bermain dan menari bersama. Kegiatan sederhana ini krusial bagi mereka, kelompok paling rentan, untuk memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri yang terkikis oleh trauma. Masih teringat seorang bocah yang menggambar rumahnya di atas bukit dengan matahari cerah; lukisan penuh harapan itu lahir di tengah tenda pengungsian berlumpur.
Namun tak semua luka terlihat kasat mata. Malam hari, beberapa anak menangis dalam tidur, terbayang suara deras hujan yang kini menjadi momok. Orang tua mereka mengaku dihantui ketakutan untuk kembali ke rumah yang mungkin roboh, cemas setiap mendung datang dan khawatir banjir susulan akan terjadi.
Ada semacam kegelisahan epistemik di benak para penyintas: ketidakpastian akan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hidup mereka kelak. Dalam bayangan mereka, bahaya seolah selalu mengintai.
Benar saja, rasa takut yang membayang setiap awan gelap sering kali lebih menyiksa daripada hujan itu sendiri. Di sinilah pendampingan psikologis dasar seperti Psychological First Aid membantu, bukan dengan janji semu “trauma healing” instan, tetapi dengan hadir mendengarkan kegelisahan mereka, menggamit tangan yang gemetar, dan meyakinkan bahwa mereka tidak sendiri melalui malam-malam sulit. Para sukarelawan yang datang juga perlu hadir dengan segenap jiwa, mendengarkan dan memberi pendampingan yang nyata.





















