Seruan Kesadaran Ekologis dari Bencana Sumatra Barat

Refleksi Kesadaran Ekologis

Rentetan banjir dan longsor di Sumatra Barat bukanlah kejadian tunggal tanpa sebab. Para pakar lingkungan menyebutnya akumulasi “dosa ekologis” yang telah lama terjadi. Hutan-hutan di lereng Bukit Barisan yang dulu menjadi penyangga alami, kini banyak yang gundul.

Terbukti pula, laju deforestasi di Sumbar termasuk yang tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 740 ribu hektare hilang sejak 2001. Padahal, tutupan hutan bak spons raksasa yang menahan air hujan; saat hutan musnah, air hujan 300 mm per hari yang turun di pegunungan langsung menggerus tanah dan meluap sebagai banjir bandang.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Heboh Biaya Bikin Sumur Bor Rp150 Juta, Begini Penjelasan Jenderal Maruli

Bencana akhir 2025 yang menelan lebih dari 400 korban jiwa di Sumbar, Sumut, dan Aceh ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua: ada yang keliru dalam cara kita memperlakukan alam. Ironisnya, di tengah urgensi itu, perhatian publik mudah sekali teralihkan.

Pada era rezim algoritmik sekarang, lini masa media sosial kita kerap diatur oleh apa yang paling sensasional atau menghibur, bukan yang paling penting. Kabar tentang banjir atau krisis iklim mungkin kalah viral dibanding gosip selebritas atau drama politik sesaat.

BACA JUGA  Kelas Menengah yang Terengah-engah

Walakin, krisis ekologis ini nyata adanya dan makin mendesak rasa kemanusiaan. Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang kebas rasa; cepat simpati saat bencana terjadi, namun cepat pula lupa ketika trending topik berganti. Kesadaran ekologis harus digelorakan melampaui siklus berita sesaat. Artinya, kita perlu edukasi berkelanjutan tentang perubahan iklim, tata ruang berkelanjutan, serta mendorong kebijakan publik yang tegas melindungi lingkungan. Bencana alam bukan sekadar takdir, melainkan juga buah dari keputusan kolektif kita. Mengabaikan hal ini sama saja mempertaruhkan masa depan kita sendiri.

Pos terkait