Setiap orang bisa turut ambil bagian: menanam pohon di lingkungannya, mengurangi jejak karbon pribadi, hingga mendesak transparansi pengelolaan lingkungan dari para pemimpin. Di sisi lain, aspek medis dan psikososial jangan lagi dipandang sebelah mata dalam manajemen bencana asbab keduanya adalah investasi jangka panjang bagi pemulihan utuh komunitas terdampak.
Kisah sukarelawan Undip di Sumbar memberikan teladan bahwa dengan ilmu pengetahuan, empati, dan koordinasi, kita mampu menyalakan lilin di tengah gulita. Semangat kolaborasi dan kepedulian ini terbukti pula menjadi bukti bahwa harapan selalu bisa tumbuh, bahkan dari titik terendah sekalipun.
Kita tidak boleh menyerah pada siklus bencana; alih-alih, mari bangun ketangguhan bersama. Seperti kata Seneca, penderitaan akan terasa lebih ringan bila dihadapi dengan kebajikan dan keberanian –dan masyarakat yang tanggap, sadar ekologi, serta saling peduli adalah wujud kebajikan itu sendiri. ***
Penulis : Diponegoro Disaster Assistance Response Team
Disunting: Aldani, Dosen Psikologi Undip





















