Zhang menambahkan bahwa pelayaran kapal Jepang mengirimkan sinyal yang salah kepada kekuatan separatis “kemerdekaan Taiwan”, yang berpotensi memicu kemarahan publik China serta memperkuat tekad untuk melawan apa yang disebut sebagai provokasi berbahaya.
Ia menegaskan militer China akan tetap siaga tinggi untuk menghadapi segala bentuk intervensi eksternal dan menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayah negara.
Sebelumnya, Jepang cenderung menahan diri untuk tidak mengirim kapal melalui Selat Taiwan guna menghindari provokasi terhadap Beijing. Namun, pada September 2024, kapal perusak Sazanami menjadi yang pertama melintas, diikuti dua kapal lainnya pada Februari dan Juni 2025.
Kapal Jepang Ikut Latihan Gabungan
Media Jepang menyebut kapal tersebut dijadwalkan berpartisipasi dalam latihan militer gabungan tahunan Filipina-AS, Balikatan, yang berlangsung mulai Senin (20/4) hingga 8 Mei.
Hubungan China-Jepang sendiri telah tegang sejak pernyataan Takaichi pada 7 November 2025 yang menyebut penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan dapat menimbulkan ancaman bagi kelangsungan hidup Jepang.
Pernyataan itu ditafsirkan sebagai kemungkinan keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang untuk mendukung Taiwan jika terjadi blokade atau tekanan militer dari China.
Sebagai respons, China mengambil sejumlah langkah balasan, termasuk menangguhkan impor produk laut Jepang, menghentikan pertemuan pejabat tinggi, menyarankan warganya untuk tidak bepergian atau belajar di Jepang, serta menghentikan distribusi film Jepang.















